Minggu, 17 Januari 2010

Hijau Army

Hijau Army

Keheningan menyelimuti kampus MIPA. Hal yang sudah sangat biasa dijumpai dihari-hari awal kuliah. Kulayangkan pandangan ke sekeliling kampus, dari lantai tiga gedung FE pemandangan kampus MIPA sangat indah, itulah yang membuatku belum mau beranjak dari tempat itu meskipun Taufiq, ketua tingkatku telah menyampaikan bahwa dosen untuk mata kuliah kimia organik hari ini belum masuk.

Sinar matahari sebentar lagi akan memanggang kota, namun sebelum itu terjadi kucoba untuk nenikmati sinarnya yang semakin menghangat. Sepoi angin pagi dan langit biru yang cerah kurasa sudah cukup untuk menemaniku.

Jam di hp ku menunjukkan waktu setengah sembilan lewat, aku rasa sudah waktunya beranjak. Sebuah langkah baru saja hendak kupijakkan ketika mataku tertuju pada seorang cowok yang melintasi taman MIPA di bawah sana. Rambutnya cepak dengan pakaian mirip seorang prajurit TNI yang akan berangkat ke medan perang lengkap dengan sepatu boot dan ransel besar dipunggungnya, yang kurang hanyalah dia tak membawa senjata. Sejauh yang aku ketahui merekalah yang disebut sebagai anggota resimen mahasiswa atau tentara mahasiswa.

Ahh, aku teringat pada seseorang. Seseorang yang telah begitu berjasa dalam hidupku, sebab seandainya Ar Rahman tak mengirimkan dia untuk menolongku, mungkin aku tak akan pernah bisa memijakkan kaki dan menjadi seorang mahasiswa di kampus ini. Dan melihat cowok yang baru saja melintas itu membuatku kembali mengenang hari pertama ujian SPMB sekitar tiga tahun yang lalu.

***

Pagi itu.

”Nindy, sarapan dulu!”

”Iya Nek, sebentar lagi”

Teriakan nenek dari ruang makan memaksaku semakin tergesa untuk segera berpakaian. Hari ini adalah hari pertama SPMB. Sebuah hari yang pasti dinantikan oleh semua mantan siswa SMA yang telah mendaftar di universitas-universitas negeri, termasuk aku.

Kupasang sebuah bros biru dijilbabku dan yahh selesai.

”Nindy......”, ahh teriakan itu lagi.

”Iya...”

Aku bergegas ke ruang makan, menyatap sarapan yang disiapkan nenekku yang sangat cerewet tapi sangat baik itu.

”Kenapa tidak pakai tas?”, tanya nenek setelah mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

”Hmm...saya ga’ suka pakai tas Nek”, jawabku sekenanya.

Sejak SMA aku memang tidak terlalu suka mengenakan tas, aneh memang. Aku hanya membawa sebuah kotak pulpen berisi semua perlengkapan untuk ujian dan sebuah papan ujian. Nenekku telah mengingatkanku untuk mengenakannya namun kuabaikan. Kuselesaikan sarapanku, dan segera berangkat.

”Pergi dulu Nek, Assalamu’alaikum” pamitku

”Wa’alaikum salam, hati-hati...”,

”iya...”

Semoga semua berjalan lancar, batinku.

Lokasi tempat ujianku adalah sebuah sekolah menengah kejuruan. Saat tiba disana suasana sudah cukup ramai, namun tak satupun dari peserta ujian yang aku kenal. Aku merasa sedikit canggung saat melangkah di gerbang sekolah tersebut.

”Peserta?”, tanya seorang cowok berpakaian hijau army padaku.

”Iya...?”, kujawab dengan nada agak heran.

”Boleh lihat kartu tanda peserta ujiannya?” tanyanya lagi.

”ohh... iya”.

Kurogoh saku jeansku untuk mencari benda yang dimaksud orang itu tapi naas, tak ada kartu itu disemua sakuku. Aku mulai panik.

”Ada?”, Si hijau army itu kembali bertanya.

”Ga’ ada Kak, sepertinya kartu saya hilang”, Sumpah aku benar-benar panik.

”Tadi disimpan dimana?”

”Disini Kak, tapi...”, jawabku sambil terus merogoh saku jeansku yang nyata-nyata kosong.

”Yakin tadi dibawa dari rumah? Atau mungkin ketinggalan?”

”Yakin Kak, tadi ada koq”

Aku tak tau harus berbuat apa sebab rumah nenekku sangat jauh bila aku harus kembali kesana mencarinya. Baru kusesali mengapa tak kudengarkan kata-kata nenekku untuk memakai tas. Kurasakan sekujur tubuhku lemah. Haruskah aku kalah sebelum berjuang?.

”Kamu ga’ bisa ikut ujian kalau kartu itu ga’ ada, tapi coba kamu ke ruang pengawas disana, siapa tau mereka bisa membantu”, sarannya.

Aku hanya nengangguk lemah. Kulangkahkan kaki menuju ke arah yang ditunjukkan Si hijau army itu.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menemukan ruangan itu. Deg...kurasakan jantungku seperti berhenti berdetak saat kubuka pintu ruangan dan mendapati para pengawas sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya cukup serius. Kututup kembali pintu itu, kupilih untuk menunggu di luar ruangan, berharap sebuah keajaiban datang.

Kuintip kembali keadaan di dalam ruangan itu, kulihat mereka kini sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Sepertinya bersiap untuk menuju ruang ujian. Mungkin inilah saat yang tepat untuk masuk dan menanyakan masalahku.

”Maaf Pak, kartu ujian saya hilang, apakah saya masih boleh ikut ujian?”, tanyaku hati-hati pada seorang bapak yang masih duduk dikursinya.

Bapak itu hanya melirikku sejenak lalu membetulkan letak kacamatanya. Tak berniatkah dia menjawab pertanyaanku?, batinku.

”Kamu sudah tau peraturannya ’kan?”, dia balik bertanya.

Aku mengerutkan keningku. Tak kujawab pertanyaannya itu. Deguban jantungku semakin kencang.

”Kartu ujian itu adalah syarat untuk bisa mengikuti ujian, kalau hilang yahh... sabar saja, kamu tidak boleh mengikuti ujian”, lanjutnya lagi tanpa menoleh kepadaku sedikitpun.

Ahh, aku kecewa. Kutinggalkan ruangan itu dengan langkah gontai.

”Benar-benar tidak bisa yah...?” desahku lemah.

Inginnya menangis, namun bukankah percuma? Mengapa aku bisa seceroboh ini?. Langkah gontaiku mengantarku kembali ke gerbang sekolah itu. Si hijau army masih berdiri disana.

”Bagaimana Dik?”, tanyanya saat melihatku.

Aku hanya menggeleng dan semoga dia mengerti. Aku terus saja melangkah, langkah yang membawaku semakin jauh meninggalkan impianku, mimpiku untuk mendalami kimia, jurusan favoritku.

Masih dapat kudengar suara Si Hijau army saat memanggilku namun tak kupedulikan. Aku ingin segera pulang dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Aku terus saja melangkah hingga sebuah tepukan dipundakku menghentikan langkahku.

”Saya akan antar kamu ke Rektorat” ucapnya saat spontan kubalikkan badanku karena terkejut.

Aku hanya melongo, namun sehelai harapan terbit dihatiku. Aku tetap berdiri mematung saat kupikir Si hijau army itu pergi mengambil motornya untuk mengantarku. Dan, betapa terkejutnya aku saat dia datang padaku dengan kendaraan beroda tiga, Becak.

Hahh...aku harus duduk disampingnya? Jeritku dalam hati saat melihatnya menepuk tempat duduk disebelahnya. Dengan langkah agak berat aku naik ke becak itu dan duduk disebelah Si hijau army. Becak pun segera melaju membelah jalan ke gedung rektorat yang cukup jauh dari tempat ujianku.

Waktu terus berjalan. Ujian SPMB pasti telah dimulai sejak tadi. Aku mencoba untuk tenang, kupejamkan mata, berdoa. Jantungku berdetak begitu cepat.

Si hijau army diam, entah apa yang dia pikirkan. Becak terus melaju. Sedetik kemudian keheningan pun pecah.

”Nama kamu siapa?”, tanyanya.

”Nindy, Nindy Amrina”.

”Orang yang punya banyak halangan untuk mendaftar dan ikut ujian, biasanya justru mereka yang lulus. Semoga Nindy juga begitu”. Hiburnya.

”Amin...”

Dia kemudian mengeluarkan pulpen dan meminta sehelai kertas padaku. Setelah selesai menulis, dia memberikan kertas itu padaku.

Rahmat Hidayat

Kampus Parang Tambung

Posko Menwa 702 UNM

081xxxxxx

Begitulah tulisan dikertas itu. Aku segera memasukkannya ke dalam kotak pulpenku.

”Sudah sampai”, ucapnya saat becak berhenti tepat didepan gedung rektorat.

Kami segera menuju ke ruangan rektor di lantai tiga. Melewati anak tangga sambil berlari cukup membuatku terengah-engah.

”Cepat...”, ujarnya padaku saat aku sudah terlalu jauh tertinggal olehnya. Dia kembali ke bawah dan menarik tanganku.

”Kita harus cepat, ujian pasti sudah dimulai. Semoga Pak rektor ada”.

Tiba diruangan yang kami tuju, Kak Rahmat mengetuk pintu dan segera masuk setelah kami dipersilahkan. Cukup lama dia menjelaskan masalahku pada Pak rektor hingga akhirnya dia mengajakku ke sebuah ruangan untuk mencari formulir pendaftaranku.

”Kamu ingat nomor ujianmu?”, tanya Pak rektor padaku.

”Iya Pak, 1030”.

Aku terkejut saat memasuki ruangan yang penuh dengan tumpukan formulir pendaftaran tahun ini. Aku, Si Hijau Army dan juga Pak Rektor mulai mencari formulir itu. Untunglah tak butuh waktu lama sebab formulirku berada di tumpukan paling atas. Sebenarnya yang kami cari hanyalah foto copy dari formulir itu untuk mengambil foto copy kartu ujianku.

Kami kembali ke lokasi ujianku setelah meminta tanda tangan dari Pak rektor. Sesampainya disana Si Hijau Army menyuruhku untuk segera menuju keruang ujian. Tak sempat kuucapkan terima kasih, aku berlari mencari ruangan itu. Dan akhirnya kutemukan.

Alhamdulillah, aku masih sempat ujian. Kufokuskan pikiran untuk menyelesaikan semua soal. Baru setelah ujian aku mencari Kak Rahmat, Si Hijau army yang baik hati itu, namun tak kutemukan. Mungkin dia sudah pulang, besok dia pasti masih akan datang karena besok masih ada ujian kedua. Pikirku.

Namun dihari kedua aku juga tak menemukannya. Aku tak pernah lagi melihatnya. Aku bahkan tak pernah sempat untuk mengucapkan kata terima kasih padanya.

***

Sinar matahari yang semakin memanas memaksaku meninggalkan pemandangan indah kampus MIPA dari lantai tiga gedung FE. Kenangan tentang hari itu masih mengisi pikiranku. Tiba-tiba terpikir olehku untuk menghubungi nomor yang pernah dia berikan padaku. Pernah kucoba menghubungi nomor itu namun tidak aktif. Tak ada salahya kucoba lagi.

Tit...tit...tit... Kutekan nomor itu, dan...

...Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda...

Yahh lagi-lagi jawaban itu yang aku dapat.

Makassar, Maret 2009

Esti Rostikawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tafaddal...