Sungguh aku ingin merasakannya lagi, suatu masa yang dulu tak ingin kujalani. Saat garis takdir telah terlanjur tergores dan mengantarkanku pada sebuah kebersamaan yag begitu asing. Takdir pulalah yang mempertemukan kami dan sedikit memaksa kami untuk menjalani sekeping waktu bersama.
Mungkin kini kisah itu sudah mulai usang. Mungkin juga angin telah lupa untuk menghembuskan namaku disana. Namun kisah itu telah terlanjur terpatri di dinding waktu dan di dinding hatiku.
Sungguh aku merindukannya, suatu masa yang dulu tak ingin aku rindukan. Saat aku dihadapkan pada sekecap kenyataan yang entah manis, asam, asin atau sekalian pahitnya, entahlah. Aku menjalani skenario kehidupanku itu dengan sungguh sangat terpaksa, mungkin juga dengan mereka yang telah terpilih menjadi pena warna-warni untuk memberi warna dalam kisah hidupku dan kisah kami selama dua bulan. Bukannya aku membenci tempat itu, hanya saja aku sangat kepayahan hidup bersama empat orang laki-laki yang bukan mahramku yang baru saja kukenal saat pertemuan di kantor kecamatan ketika ritual penerimaan.
Posko KKN Reguler, Desa Bukit Tinggi Kecamatan Gantarang. Ahh, selalu saja terasa ada yang mengganjal hati saat mengenangnya. Tak ada yang indah di sana, mungkin hanya hamparan luas sawah yang menghijau atau semerbak kesejukan yang memenuhi rongga paru-paru saat menghirup udaranya di pagi yang dingin, itu menurutku.
Benar-benar tidak ada yang istimewa, menjalani kehidupan di sana selama dua bulan terasa bagaikan dua abad. Kebersamaan kami yang berawal pada tanggal 19 Juni 2009 benar-benar membosankan. Namun tanpa kusadari ada banyak hal yang kudapatkan, dan kebersamaan itu adalah hal terindah yang kudapatkan dari mereka.
Nama-nama mereka kini menjadi indah saat terlantun ditelingaku, membuat aku selalu ingin tersenyum saat mengenangnya. Mereka dengan tingkah pola yang lucu, aneh, seru dan “menakutkan”, telah berhasil menenggelamkan hatiku ke dalam larutan asam-basa yang kini menjadi manis.
Di depan posko usang kami ada sebuah sekolah dasar yang selalu menawarkan tontonan gratis. Setiap pagi di hari sekolah, anak-anak yang lucu itu akan melambai pada kami dengan senyum polos mereka. Itulah pemandangan terindah untukku di pagi hari. Tak ketinggalan tingkah “para pahlawan muda” yang katanya “tanpa tanda jasa” yang turut menebarkan pesona mereka pada saudari-saudariku, dan aku selalu jadi penonton setia. Yahh,,, entah dengan alasan apa kami hanya dekat dengan warga sekolah itu dan khusus untukku aku hanya dekat dengan anak-anak yang selalu menggodaku untuk tersenyum.
Biar kurangkai sedikit kisah tentang saat terakhir kebersamaan kami yang kami sebut ritual “penarikan”, 19 Agustus 2009. Jika di posko lain banyak yang menangis pada hari itu, maka berbeda denganku yang justru tersenyum bahagia. Yah aku akan segera meninggalkan gubug derita yang memenjara batinku selama dua bulan, mungkin pula dengan ketujuh saudaraku. Sebuah gedung bercat putih berlabel kantor Kecamatan Gantarang menjadi saksi pertama dan terakhir keberadaan kami disana. Bus melaju mengantarkan aku kembali ke Makassar, meninggalan tempat itu. Dan hatiku melambai pada posko itu, sekolah itu, sawah hijau itu, jalanan itu, dan pada sebait rasa aneh yang tiba-tiba menyerangku.
Aku kangen Unha Yahya, yang selalu ngasih semangat n rajin masak walaupun baru belajar…
Aku kangen Andra Syam, yang selalu setia mendengar curhat-curhatku…
Aku kangen Fitri, yang selalu berisik disampingku kalo udah mau tidur…
Aku kangen Ari yang selalu bantuin kami masak…
Aku kangen Ismail Ai’ yang selalu bantuin aku ngeluarin “makhluk halus”, hehe…
Aku kangen Kanda Hasan sang Pawang Air n satu-satunya orang yang rajin ngaji di posko kami.
Aku juga kangen K’ Heri yang paling sering marahin aku n bikin aku nangis…
Terkhusus untuk dua saudari cantikku yang telah menjadi peri penghiburku saat menjalani masa-masa berat itu. Terima kasih telah mengajariku betapa pentingnya untuk selalu bersyukur,,,
Sungguh aku ingin merasakannya lagi, namun cukuplah hanya sebatas ingin sebab mengulanginya mungkin tak akan pernah bisa.
For my “seposko”: Unha Yahya, Andra Syam, Fitri, Ari, Ai’, K’Hasan dan K’Heri (Pak Kordes yang menakutkan).
Kamsa Hamnida.
By: Fathiya Amrina
Rabu, 21 April 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tafaddal...